Catatan Seorang Mahasiswa Veteran
Untuk memahami dunia dengan cara berbeda, kita harus bersedia
untuk mengubah sistem keyakinan kita, membiarkan masa lalu berlalu, memperluas
rasa kekinian kita dan melarutkan rasa takut dalam pikiran kita.
Kalian dipanggil generasi milenial?. Sebutan untuk ciri
anak muda yang pragmatis, kreatif, dan paham teknologi. Katanya generasi kalian
itu suka berpetualang, tak loyal pada satu pilihan saja, dan selalu suka
mencoba hal baru. Sungguh ini merupakan ciri yang menakjubkan. Jika benar
seperti itu, pasti kuliah akan penuh dengan pengalaman yang mengagumkan. Tak gampang
kalian didoktrin tentang kelulusan akademik saja. Tak mudah kalian diperintah
untuh patuh. Bahkan mungkin juga tak gampang dosen mengajar kalian. Sebab ruang
kelas pasti diramaikan oleh pertanyaan. Kelas disibukkan oleh debat dan saling
berpendapat. Jujur, jika seperti itu aku masih ingin lama lagi menjadi
mahasiswa. Di sana bisa muncul api pergerakan karena kampus bergolak lewat debat,
kesangsian dan pertanyaan. Karena yang ada bukan ketertiban, tapi keberanian
untuk menyatakan kebenaran.
Hanya aku kuatir kalian tak seperti itu. Karena kampus
bukan ladang indah untuk menanam ide-ide radikal. Kini tempat itu memang labih
bagus dan mengagumkan. Kulihat ruangan kuliah penuh fasilitas. Taman kampus
berhias bunga. Tiap jalan masuk kampus dijaga oleh satpam yang siap siaga. Suasana
kantin dengan meja yang selalu setia menemani kalian untuk bercanda dan
berdiskusi. Belum lagi dosen yang penampilannya keren bak artis drama korea
yang sering buat baperan mahasiswinya (ups...). diantara mereka ada yang
bermobil mewah dengan jabatan akademik tinggi. Tak hanya itu, aktifitas
mahasiswa pun komplit dan tinggal milih. Singkatnya, kampus menjanjikan bukan
hanya gelar tapi juga kegiatan yang membuatmu merasa istimewa. Iklan kampus
saja sudah serupa dengan tempat wisata, deretan mahasiswa yang riang gembira.
Tentu semua itu tak gratis. Bayaran kuliah tak lagi murah
seperti dulu. Tentu kamu paham ongkos jadi mahasiswa itu besar dan banyak
sekali. Belum lagi kalo kalian kuliah ambil jurusan kedokteran, bisa saja sertifikat
tanah pun jadi gadaian, hahaha. Maka orang tuamu menuntut hal yang sama,
bereskan kuliah secepatnya karena biaya kuliah yang gila. Kamu pun punya
pendapat yang serupa; kuliah mahal maka jangan buat banyak perkara. Ikuti saja
perintah dosen dan patuhi saja aturan yang ada di dalamnya. Itu sebabnya kampus
lalu meluncurkan mimpi tentang keberhasilan seorang mahasiswa; kuliah tertib, tinggi nilai dan cepat
selesai. Keyakinan absolut itu kalian percaya padahal tak banyak bukti
mendukungnya.
Sebut saja nama orang yang berhasil karena kuliah rutin. Jika
masih sulit katakan siapa orang berhasil karena nilai kuliah yang tinggi?. Mungkin
jika kusebut nama ini kalian semua pasti tak asing lagi. Bill Gates (pencipta
microsoft0 dan Mark Zurckenberg (pencipta facebook). Kedua-duanya setahuku
bukan anak yang rajin kuliah. Keduanya kurasa juga bukan anak yang meraih
Indeks Prestasi (IP) tinggi. Diantaranya malah hobi membolos. Kedua-duanya tak
ada yang wisuda. Tapi sumbangan mereka atas kemajuan zaman tak ternilai. Gara-gara
mereka kurasa kalian mengenal dunia maya. Mereka dinamai nabi teknologi. Ditangan
merekalah lahir generasi Z. Tauladan mereka bukan kekayaan tapi petualangan
yang gila. Secara antusias mereka meneguhkan sikap sebagai anak muda; melawan
segala bentuk kemapanan dan memihak ide-ide gila. Jujur bukan hanya mereka yang
mengawali keberanian itu. Para pendiri republik pun jauh-jauh hari menyalakan
sikap yang sama.
Jika kalian kenal Soekarno tentu kalian akan terpesona. Pria
muda ini tak kita ketahui berapa lama selesaikan kuliahnya. Malahan kita tak
mengerti rajin tidaknya ia kuliah. Yang jelas semasa mahasiswa dirinya diadili.
Sewaktu mahasiswa ikut gerakan politik yang militan. Hingga pemerintah kolonial
mengawasi lalu menangkapnya. Juga Hatta yang selalu meyakini kalau melawan
kolonialisme adalah kewajiban. Saat memilih pulang, ia kemudian mencoba
menghidupkan kesadaran rakyat akan ancaman imperialisme. Pria yang dalam
sejarah bangsa ini berdiri bersama Soekarno membaca Proklamasi. Pria langka,
pintar dan berani adalah Tan Malaka, menulis banyak buku yang kemudian menjadi
buron dimanapun ia berada.
Mereka menunjukkan bahwa bukan kepintaran dalam mencapai
nilai tinggi tapi keberanian untuk bersikap berbeda. Di tangan mereka bangsa
ini berdiri diatas kehormatan dan martabat. Tuntutan mereka bukan menjadi
sarjana tapi orang yang berjuang untuk tegaknya nilai keadilan, kedaulatan dan
kehormatan. Kini waktunya kita berpikir untuk bisa menjadi seperti mereka bukan
sekedar jadi sarjana, sebab merekalah yang membuat kita bangga tinggal di
negeri ini. Karena mereka kita bisa punya sejarah yang bisa membuat kagum
bangsa-bangsa lain.
Sejarah mahasiswa dari dulu hingga kini tak lain adalah
kekuatan pengubah. Perubahan bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk bangsa. Mungkin
ini terdengar heroik dan kuno. Bukan kepatuhan apalagi kepercayaan buta. Maka jika
dirimu adalah wakil dari generasi baru, rintislah sesuatu yang berbeda dari
sekitarmu. Tugasmu adalah mengubah keyakinan buta akan peran mahasiswa. Tidak untuk
memenangkan lomba apalagi jadi kaya raya. Tidak pula selesai secepatnya atau
mendapat gelar setinggi-tingginya. Itu peran seadanya dan amat sederhana. Mari kita
singsingkan lengan baju atau jika perlu lipat bajumu dan simpan HP mu,
terjunlah ke arena pergulatan sosial yang menantang dan menjanjikan. Disana kalian
akan bertemu dengan rakyat yang rindu keadilan dan politisi brengsek yang buat
kegiatan palsu. Hadapi mereka dengan riang dan jangan takut melawan resiko. Hidup
yang tak dipertaruhkan adalah hidup yang tak layak tuk dijalani.
Jangan biarkan kampus dengan bangunan megah itu menipumu.
Hanya membuatmu patuh dan menjadikanmu robot. Rebut hari ini dengan mengubah
kelas jadi letusan banyak pertanyaan. Ajari dosenmu untuk mendidik tidak hanya
dengan modal menakut-nakuti atau merasa pintar sendiri. Debat mereka jika keliru
dan luruskan jika diberi keyakinan palsu yang membodohimu. Kuliah bukan tempat
untuk menata hati. Kuliah buka pula tempat para prajurit yang hanya menyatakan
siap dan terima saja. Kuliah adalah belajarnya orang dewasa dan berakal. Protes
itu wajar dan diskusi itu wajib. Lawan kebijakan kampus yang membebanimu. Jangan
takut protes jika itu bersangkutan dengan perkara benar dan prinsip. Keberanian
itu bukan modal mahasiswa tapi itulah ciri mahasiswa. Maka ikrarkan dalam
dirimu kalau kuliah bukan seperti tamasya. Datang, bayar dan nikmati pelajaran.
Kuliah adalah merengguk pengalaman berharga untuk bertarung merebut hal yang
terhormat dan mulia.
Nilai diatas adalah kedaulatan yang kini sudah
perlahan-lahan menghilang. Itu adalah gagasan besar yang lama tak dibicarakan,
keadilan yang sudah lama diabaikan dan pengetahuan yang kini digantikan oleh
keyakinan buta. Rangkuman nilai-nilai itu telah lama lapuk hanya jadi omongan
dan tulisan. Bukan karena tak ada yang mau menghidupkannya tapi karena banyak
orang jahannam yang ingin mengenyahkannya dari kehidupan kampus yang hakiki. Mereka
merusak kedaulatan yang mencuri apa saja. Koruptor pendidikan adalah sebutannya,
karena pandangan culasnya yang brutal merusak kegiatan diskusi, karena itu
sesat. Harusnya kampus memberi perlindungan bukan malah kalah oleh intimidasi. Mestinya
kampus menjamin kebebasan bukan mengubur hidup-hidup keberanian. Jika kampus
berjalan dengan cara memeras dan menekan mahasiswanya, itu bukan ladang belajar
tapi ladang judi. Karena yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan, yang
bermain adalah jabatan bukan kecerdasan, yang hidup adalah titel bukan karya.
Mungkin itu yang membuat dosenmu tak kaya pengetahuan
tapi kaya harta benda. Mungkin itu sebabnya jabatan rektor jadi rebutan
ketimbang diserahkan pada siapa yang bersedia. Mungkin itu yang membuat mereka
ingin jadi pejabat ketimbang jadi pengajar. Jangan kecewa kalau kampus tak
memberikanmu rasa keingintahuan. Jangan pula marah jika kampus tak memberi
kuliah yang menakjubkan. Jangan sedih jika kampus tak memberikanmu keberanian
untuk menentang kemapanan. Dulu hingga sekarang kampus hanya untuk bertemu,
berjumpa dan melatih dasar keyakinan. Tapi sekarang memang beda situasinya,
kampus bisa menciptakan generasi robot dan anak muda yang nantinya akan lebih
percaya pada apa yang didengar ketimbang apa yang dibaca.
Bayangkan kampus masih mempertahankan tradisi ceramah
didepan kelas. Ini metode belajar yang bisa menciderai sel-sel saraf diotak. Bahkan
cara ini menghinamu. Dianggap kalian anak lugu yang tak tau apa-apa. Kemampuan
kalian yang cepat, tanggap dan kritis serta selalu berjejaring membuat kuliah
yang beginian tak cocok sama sekali. Maka akan melahirkan mahasiswa dengan otak
yang tak terbang menuju tantangan tapi sikap berlindung dan melindungi diri
sendiri. Otak mereka berisi kekuatiran, kecemasan dan selalu takut melihat
hal-hal baru. Jenis mahasiswa seperti ini banyak muncul di kampus belakangan
ini. Mereka menganggap dirinya paling benar dan merasa semua gagasan yang seharusnya
dipahami sebagai perbedaan dalam berpendapat dianggap tak sesuai adalah sesat
dan bahaya. Ciri tersebut semakin lengkap karena dosen punya keyakinan yang
sama; persaya bumi itu datar dan meyakini hidup mahasiswa hanya berpusat pada
sarjana, berkeluarga dan mati bahagia. Semakin menggila lagi ketika kampus
berorientasi menciptakan mahasiswa kaya ketimbang mahasiswa kreatif dan
bijaksana. Kalau kampus jadi rusak kulturnya maka pengetahuan bukan untuk
diperdalam, diamalkan dan mengubah keadaan. Pengetahuan hanya jadi lampiran
sebuah gelar, tragedi yang melahirkan korban dan ilmuwan yang merusak
kehidupan. Hufht... kalau kita renungkan kembali, kehidupan sebagai mahasiswa kok
serasa makin miris gini ya?.
Bahkan sangat memalukan sekali menyaksikan dosen-dosen
yang hobi sekali menipu mahasiswa dengan berkata demonstrasi tak ada gunanya
sama sekali. Rangkaian pendapat dan tingkah konyol itu muncul tak didasarkan
pada pengetahuan tapi pikiran sempit dan buntu. Tak lagi mereka membuka diri
untuk menjemput pengetahuan baru. Tak mungkin mereka berkompetisi dalam debat
pikiran terbuka. Kalau semacam itu terbit dibanyak kampus, maka kuliah bukan
mendirikan pengalaman baru tapi mengulang kebodohan lama. Sebab, yang
dipertahankan adalah kepentingan kuno ketimbang masa depan yang terbuka dan
cerah. Itulah masalahnya dikampusku hari ini, barisan penjaga kemapanan yang
merasa kampus bukan taman pengetahuan lagi melainkan penjara tempat anak muda
mesti tertib seperti serdadu.
Jangan takut oleh persoalan dan jangan cemas oleh
masalah. Dari dulu kita sebagai anak muda selalu punya soal serupa. Menghadapi lingkungan
yang bahaya dengan orang yang punya pikiran tak sama. Maka tinggalkan
kepercayaan palsumu tentang gelar. Berfikirlah tidak untuk dirimu sendiri. Beranjaklah
pada potensi dan kesempatan yang kini ada didepanmu. Kuliah memang tidak untuk
tinggal dan duduk dikelas saja. Kuliah hanya pengantar untuk membawamu
berpetualang kemana-mana. Kuliah hanya awal untuk menguji keberanian dan
keyakinan. Maka ingatkan dirimu agar kampusmu tak menjadi penjaramu. Yakinlah bahwa
dirimu tinggal disini untuk sementara maka buatlah perubahan sebisa-bisanya. Perubahan
yang membuat kampus tak lagi jadi tempat wisata dan belajar bukan dengan
ceramah semata. Ingatlah, banyak orang hebat lahir dikampus tidak dengan modal
kepatuhan tapi keberanian untuk melawan keadaan. Keadaan yang menghambatmu
untuk menemukan tantangan dan pengetahuan baru. Selamat bagi kalian anak muda
yang menjadi generasi pilihan yang mempunyai predikat sebagai seorang
mahasiswa. Hari kalianlah yang akan memutuskan akan jadi apa dirimu dimasa
depan. Semoga kamu tak sesat mengambil posisi!. (Kur/El_Sania)
“tulisan ini tak lain
adalah secuil tentang curahan hati seorang mahasiswa veteran disalah satu
Perguruan Tinggi Swasta di Tuban yang saat ini sedang memutuskan cuti satu
tahun disemester akhir karena kendala administrasi pembayaran. Namun, baginya
tak menghambat ia untuk mencari tantangan dan pengetahuan baru untuk bekal masa
depannya, sehingga detik ini ia aktif
dalam salah satu organisasi kemahasiswaan sambil menunggu masa cutinya habis. Semoga
di tahun depan ia dapat melanjutkan kuliahnya sampai selesai sebagaimana
tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa akademisi yang baik. (ups.....)”
Tuban, Kamis (01.05 WIB) 25 April
2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar