Rabu, 24 April 2019

Catatan Seorang Mahasiswa Veteran

Catatan Seorang Mahasiswa Veteran
Untuk memahami dunia dengan cara berbeda, kita harus bersedia untuk mengubah sistem keyakinan kita, membiarkan masa lalu berlalu, memperluas rasa kekinian kita dan melarutkan rasa takut dalam pikiran kita.
Kalian dipanggil generasi milenial?. Sebutan untuk ciri anak muda yang pragmatis, kreatif, dan paham teknologi. Katanya generasi kalian itu suka berpetualang, tak loyal pada satu pilihan saja, dan selalu suka mencoba hal baru. Sungguh ini merupakan ciri yang menakjubkan. Jika benar seperti itu, pasti kuliah akan penuh dengan pengalaman yang mengagumkan. Tak gampang kalian didoktrin tentang kelulusan akademik saja. Tak mudah kalian diperintah untuh patuh. Bahkan mungkin juga tak gampang dosen mengajar kalian. Sebab ruang kelas pasti diramaikan oleh pertanyaan. Kelas disibukkan oleh debat dan saling berpendapat. Jujur, jika seperti itu aku masih ingin lama lagi menjadi mahasiswa. Di sana bisa muncul api pergerakan karena kampus bergolak lewat debat, kesangsian dan pertanyaan. Karena yang ada bukan ketertiban, tapi keberanian untuk menyatakan kebenaran.
Hanya aku kuatir kalian tak seperti itu. Karena kampus bukan ladang indah untuk menanam ide-ide radikal. Kini tempat itu memang labih bagus dan mengagumkan. Kulihat ruangan kuliah penuh fasilitas. Taman kampus berhias bunga. Tiap jalan masuk kampus dijaga oleh satpam yang siap siaga. Suasana kantin dengan meja yang selalu setia menemani kalian untuk bercanda dan berdiskusi. Belum lagi dosen yang penampilannya keren bak artis drama korea yang sering buat baperan mahasiswinya (ups...). diantara mereka ada yang bermobil mewah dengan jabatan akademik tinggi. Tak hanya itu, aktifitas mahasiswa pun komplit dan tinggal milih. Singkatnya, kampus menjanjikan bukan hanya gelar tapi juga kegiatan yang membuatmu merasa istimewa. Iklan kampus saja sudah serupa dengan tempat wisata, deretan mahasiswa yang riang gembira.
Tentu semua itu tak gratis. Bayaran kuliah tak lagi murah seperti dulu. Tentu kamu paham ongkos jadi mahasiswa itu besar dan banyak sekali. Belum lagi kalo kalian kuliah ambil jurusan kedokteran, bisa saja sertifikat tanah pun jadi gadaian, hahaha. Maka orang tuamu menuntut hal yang sama, bereskan kuliah secepatnya karena biaya kuliah yang gila. Kamu pun punya pendapat yang serupa; kuliah mahal maka jangan buat banyak perkara. Ikuti saja perintah dosen dan patuhi saja aturan yang ada di dalamnya. Itu sebabnya kampus lalu meluncurkan mimpi tentang keberhasilan seorang mahasiswa; kuliah tertib, tinggi nilai dan cepat selesai. Keyakinan absolut itu kalian percaya padahal tak banyak bukti mendukungnya.
Sebut saja nama orang yang berhasil karena kuliah rutin. Jika masih sulit katakan siapa orang berhasil karena nilai kuliah yang tinggi?. Mungkin jika kusebut nama ini kalian semua pasti tak asing lagi. Bill Gates (pencipta microsoft0 dan Mark Zurckenberg (pencipta facebook). Kedua-duanya setahuku bukan anak yang rajin kuliah. Keduanya kurasa juga bukan anak yang meraih Indeks Prestasi (IP) tinggi. Diantaranya malah hobi membolos. Kedua-duanya tak ada yang wisuda. Tapi sumbangan mereka atas kemajuan zaman tak ternilai. Gara-gara mereka kurasa kalian mengenal dunia maya. Mereka dinamai nabi teknologi. Ditangan merekalah lahir generasi Z. Tauladan mereka bukan kekayaan tapi petualangan yang gila. Secara antusias mereka meneguhkan sikap sebagai anak muda; melawan segala bentuk kemapanan dan memihak ide-ide gila. Jujur bukan hanya mereka yang mengawali keberanian itu. Para pendiri republik pun jauh-jauh hari menyalakan sikap yang sama.
Jika kalian kenal Soekarno tentu kalian akan terpesona. Pria muda ini tak kita ketahui berapa lama selesaikan kuliahnya. Malahan kita tak mengerti rajin tidaknya ia kuliah. Yang jelas semasa mahasiswa dirinya diadili. Sewaktu mahasiswa ikut gerakan politik yang militan. Hingga pemerintah kolonial mengawasi lalu menangkapnya. Juga Hatta yang selalu meyakini kalau melawan kolonialisme adalah kewajiban. Saat memilih pulang, ia kemudian mencoba menghidupkan kesadaran rakyat akan ancaman imperialisme. Pria yang dalam sejarah bangsa ini berdiri bersama Soekarno membaca Proklamasi. Pria langka, pintar dan berani adalah Tan Malaka, menulis banyak buku yang kemudian menjadi buron dimanapun ia berada.
Mereka menunjukkan bahwa bukan kepintaran dalam mencapai nilai tinggi tapi keberanian untuk bersikap berbeda. Di tangan mereka bangsa ini berdiri diatas kehormatan dan martabat. Tuntutan mereka bukan menjadi sarjana tapi orang yang berjuang untuk tegaknya nilai keadilan, kedaulatan dan kehormatan. Kini waktunya kita berpikir untuk bisa menjadi seperti mereka bukan sekedar jadi sarjana, sebab merekalah yang membuat kita bangga tinggal di negeri ini. Karena mereka kita bisa punya sejarah yang bisa membuat kagum bangsa-bangsa lain.
Sejarah mahasiswa dari dulu hingga kini tak lain adalah kekuatan pengubah. Perubahan bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk bangsa. Mungkin ini terdengar heroik dan kuno. Bukan kepatuhan apalagi kepercayaan buta. Maka jika dirimu adalah wakil dari generasi baru, rintislah sesuatu yang berbeda dari sekitarmu. Tugasmu adalah mengubah keyakinan buta akan peran mahasiswa. Tidak untuk memenangkan lomba apalagi jadi kaya raya. Tidak pula selesai secepatnya atau mendapat gelar setinggi-tingginya. Itu peran seadanya dan amat sederhana. Mari kita singsingkan lengan baju atau jika perlu lipat bajumu dan simpan HP mu, terjunlah ke arena pergulatan sosial yang menantang dan menjanjikan. Disana kalian akan bertemu dengan rakyat yang rindu keadilan dan politisi brengsek yang buat kegiatan palsu. Hadapi mereka dengan riang dan jangan takut melawan resiko. Hidup yang tak dipertaruhkan adalah hidup yang tak layak tuk dijalani.
Jangan biarkan kampus dengan bangunan megah itu menipumu. Hanya membuatmu patuh dan menjadikanmu robot. Rebut hari ini dengan mengubah kelas jadi letusan banyak pertanyaan. Ajari dosenmu untuk mendidik tidak hanya dengan modal menakut-nakuti atau merasa pintar sendiri. Debat mereka jika keliru dan luruskan jika diberi keyakinan palsu yang membodohimu. Kuliah bukan tempat untuk menata hati. Kuliah buka pula tempat para prajurit yang hanya menyatakan siap dan terima saja. Kuliah adalah belajarnya orang dewasa dan berakal. Protes itu wajar dan diskusi itu wajib. Lawan kebijakan kampus yang membebanimu. Jangan takut protes jika itu bersangkutan dengan perkara benar dan prinsip. Keberanian itu bukan modal mahasiswa tapi itulah ciri mahasiswa. Maka ikrarkan dalam dirimu kalau kuliah bukan seperti tamasya. Datang, bayar dan nikmati pelajaran. Kuliah adalah merengguk pengalaman berharga untuk bertarung merebut hal yang terhormat dan mulia.
Nilai diatas adalah kedaulatan yang kini sudah perlahan-lahan menghilang. Itu adalah gagasan besar yang lama tak dibicarakan, keadilan yang sudah lama diabaikan dan pengetahuan yang kini digantikan oleh keyakinan buta. Rangkuman nilai-nilai itu telah lama lapuk hanya jadi omongan dan tulisan. Bukan karena tak ada yang mau menghidupkannya tapi karena banyak orang jahannam yang ingin mengenyahkannya dari kehidupan kampus yang hakiki. Mereka merusak kedaulatan yang mencuri apa saja. Koruptor pendidikan adalah sebutannya, karena pandangan culasnya yang brutal merusak kegiatan diskusi, karena itu sesat. Harusnya kampus memberi perlindungan bukan malah kalah oleh intimidasi. Mestinya kampus menjamin kebebasan bukan mengubur hidup-hidup keberanian. Jika kampus berjalan dengan cara memeras dan menekan mahasiswanya, itu bukan ladang belajar tapi ladang judi. Karena yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan, yang bermain adalah jabatan bukan kecerdasan, yang hidup adalah titel bukan karya.
Mungkin itu yang membuat dosenmu tak kaya pengetahuan tapi kaya harta benda. Mungkin itu sebabnya jabatan rektor jadi rebutan ketimbang diserahkan pada siapa yang bersedia. Mungkin itu yang membuat mereka ingin jadi pejabat ketimbang jadi pengajar. Jangan kecewa kalau kampus tak memberikanmu rasa keingintahuan. Jangan pula marah jika kampus tak memberi kuliah yang menakjubkan. Jangan sedih jika kampus tak memberikanmu keberanian untuk menentang kemapanan. Dulu hingga sekarang kampus hanya untuk bertemu, berjumpa dan melatih dasar keyakinan. Tapi sekarang memang beda situasinya, kampus bisa menciptakan generasi robot dan anak muda yang nantinya akan lebih percaya pada apa yang didengar ketimbang apa yang dibaca.
Bayangkan kampus masih mempertahankan tradisi ceramah didepan kelas. Ini metode belajar yang bisa menciderai sel-sel saraf diotak. Bahkan cara ini menghinamu. Dianggap kalian anak lugu yang tak tau apa-apa. Kemampuan kalian yang cepat, tanggap dan kritis serta selalu berjejaring membuat kuliah yang beginian tak cocok sama sekali. Maka akan melahirkan mahasiswa dengan otak yang tak terbang menuju tantangan tapi sikap berlindung dan melindungi diri sendiri. Otak mereka berisi kekuatiran, kecemasan dan selalu takut melihat hal-hal baru. Jenis mahasiswa seperti ini banyak muncul di kampus belakangan ini. Mereka menganggap dirinya paling benar dan merasa semua gagasan yang seharusnya dipahami sebagai perbedaan dalam berpendapat dianggap tak sesuai adalah sesat dan bahaya. Ciri tersebut semakin lengkap karena dosen punya keyakinan yang sama; persaya bumi itu datar dan meyakini hidup mahasiswa hanya berpusat pada sarjana, berkeluarga dan mati bahagia. Semakin menggila lagi ketika kampus berorientasi menciptakan mahasiswa kaya ketimbang mahasiswa kreatif dan bijaksana. Kalau kampus jadi rusak kulturnya maka pengetahuan bukan untuk diperdalam, diamalkan dan mengubah keadaan. Pengetahuan hanya jadi lampiran sebuah gelar, tragedi yang melahirkan korban dan ilmuwan yang merusak kehidupan. Hufht... kalau kita renungkan kembali, kehidupan sebagai mahasiswa kok serasa makin miris gini ya?.
Bahkan sangat memalukan sekali menyaksikan dosen-dosen yang hobi sekali menipu mahasiswa dengan berkata demonstrasi tak ada gunanya sama sekali. Rangkaian pendapat dan tingkah konyol itu muncul tak didasarkan pada pengetahuan tapi pikiran sempit dan buntu. Tak lagi mereka membuka diri untuk menjemput pengetahuan baru. Tak mungkin mereka berkompetisi dalam debat pikiran terbuka. Kalau semacam itu terbit dibanyak kampus, maka kuliah bukan mendirikan pengalaman baru tapi mengulang kebodohan lama. Sebab, yang dipertahankan adalah kepentingan kuno ketimbang masa depan yang terbuka dan cerah. Itulah masalahnya dikampusku hari ini, barisan penjaga kemapanan yang merasa kampus bukan taman pengetahuan lagi melainkan penjara tempat anak muda mesti tertib seperti serdadu.
Jangan takut oleh persoalan dan jangan cemas oleh masalah. Dari dulu kita sebagai anak muda selalu punya soal serupa. Menghadapi lingkungan yang bahaya dengan orang yang punya pikiran tak sama. Maka tinggalkan kepercayaan palsumu tentang gelar. Berfikirlah tidak untuk dirimu sendiri. Beranjaklah pada potensi dan kesempatan yang kini ada didepanmu. Kuliah memang tidak untuk tinggal dan duduk dikelas saja. Kuliah hanya pengantar untuk membawamu berpetualang kemana-mana. Kuliah hanya awal untuk menguji keberanian dan keyakinan. Maka ingatkan dirimu agar kampusmu tak menjadi penjaramu. Yakinlah bahwa dirimu tinggal disini untuk sementara maka buatlah perubahan sebisa-bisanya. Perubahan yang membuat kampus tak lagi jadi tempat wisata dan belajar bukan dengan ceramah semata. Ingatlah, banyak orang hebat lahir dikampus tidak dengan modal kepatuhan tapi keberanian untuk melawan keadaan. Keadaan yang menghambatmu untuk menemukan tantangan dan pengetahuan baru. Selamat bagi kalian anak muda yang menjadi generasi pilihan yang mempunyai predikat sebagai seorang mahasiswa. Hari kalianlah yang akan memutuskan akan jadi apa dirimu dimasa depan. Semoga kamu tak sesat mengambil posisi!. (Kur/El_Sania)
“tulisan ini tak lain adalah secuil tentang curahan hati seorang mahasiswa veteran disalah satu Perguruan Tinggi Swasta di Tuban yang saat ini sedang memutuskan cuti satu tahun disemester akhir karena kendala administrasi pembayaran. Namun, baginya tak menghambat ia untuk mencari tantangan dan pengetahuan baru untuk bekal masa depannya,  sehingga detik ini ia aktif dalam salah satu organisasi kemahasiswaan sambil menunggu masa cutinya habis. Semoga di tahun depan ia dapat melanjutkan kuliahnya sampai selesai sebagaimana tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa akademisi yang baik. (ups.....)”


Tuban, Kamis (01.05 WIB)  25 April 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Seorang Mahasiswa Veteran

Catatan Seorang Mahasiswa Veteran Untuk memahami dunia dengan cara berbeda, kita harus bersedia untuk mengubah sistem keyakinan kita, m...